Logo Pemda Lumajang

Nilai UT

Lihat nilai universitas terbuka secara online. clik disini

FORUM DR GIGI

CLIK DISINI

FORUM SERVIS HP SEGALA MEREK

LUMAJANG 2009

ATRESIA ESOFAGUS

TRESIA ESOFAGUS
1. Pengertian
Atresia berarti buntu, atresia esofagus adalah suatu keadaan tidak adanya lubang atau muara (buntu), pada esofagus (+). Pada sebagian besar kasus atresia esofagus ujung esofagus buntu, sedangkan pada ¼ -1/3 kasus lainnya esophagus bagian bawah berhubungan dengan trakea setinggi karina (disebut sebagai atresia esophagus dengan fistula).
Kelainan lumen esophagus ini biasanya disertai dengan fistula trakeoesofagus. Atresia esofagaus sering disertai kelainan bawaan lain, seperti kelainan jantung, kelainan gastroin testinal (atresia duodeni atresiasani), kelainan tulang (hemivertebrata).
2. Tanda dan Gejala
a. Biasanya disertai hidramnion (60%) dan hal ini pula yang menyebabkan kenaikan frekuensi bayi lahir prematur, sebaiknya dari anamnesis didapatkan keterangan bahwa kehamilan ibu diertai hidramnion hendaknya dilakukan kateterisasi esofagus. Bila kateter terhenti pada jarak ≤ 10 cm, maka di duga atresia esofagus.
b. Bila pada bbl Timbul sesak yang disertai dengan air liur yang meleleh keluar, di curigai terdapat atresia esofagus.
c. Segera setelah di beri minum, bayi akan berbangkis, batuk dan sianosis karena aspirasi cairan kedalam jalan nafas.
d. Pada fistula trakeosofagus, cairan lambung juga dapat masuk kedalam paru, oleh karena itu bayi sering sianosis.

3. Klasifikasi
a. Kalasia
Kalasia adalah kelainan yang terjadi pada bagian bawah esophagus(pada persambungan dengan lambung) yang tidak dapat menutup rapat sehingga bayi sering regurgitasi bila dibaringkan.
b. Akalasia
Akalasia merupakan kebalikan dari kalasia, pada akalasia bagian distal esophagus tidak dapat membuka dengan baik sehingga terjadi keadaan seperti stenosis atau atresia. Disebut pula sebagai spasme kardio- esofagus. Penyebab akalasia adalah adanya kartilago trakea yang tumbuh ektopik pada esofagus bagian bawah. Pada pemeriksaan mikroskopis ditemuka jaringa tulang rawan dalam lapisan otot esophagus. Pertolongannya adalah tindakan bedah sebelum dioperasi pemberian minum harus dengan sendok sedikit demi sedikit dengan bayi dalam posisi duduk.

4. Pengobatan
a. Medik
Pengobatan dilakukan dengan operasi.
Pada penderita atresia anus ini dapat diberikan pengobatan sebagai beriikut :
- Fistula yaitu dengan melakukan kolostomia sementara dan setelah 3 bulan dilakukan koreksi sekaligus
- Eksisi membran anal
Komplikasi-komplikasi yang bisa timbul setelah operasi perbaikan pada atresia esofagus dan fistula atresia esophagus adalah sebagai berikut :
1. Dismotilitas esophagus. Dismotilitas terjadi karena kelemahan otot dingin esophagus. Berbagai tingkat dismotilitas bisa terjadi setelah operasi ini. Komplikasi ini terlihat saat bayi sudah mulai makan dan minum.
2. Gastroesofagus refluk. Kira-kira 50 % bayi yang menjalani operasi ini kana mengalami gastroesofagus refluk pada saat kanak-kanak atau dewasa, dimana asam lambung naik atau refluk ke esophagus. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan obat (medical) atau pembedahan.
3. Trakeo esogfagus fistula berulang. Pembedahan ulang adalah terapi untuk keadaan seperti ini.
4. Disfagia atau kesulitan menelan. Disfagia adalah tertahannya makanan pada tempat esophagus yang diperbaiki. Keadaan ini dapat diatasi dengan menelan air untuk tertelannya makanan dan mencegah terjadinya ulkus.
5. Kesulitan bernafas dan tersedak. Komplikasi ini berhubungan dengan proses menelan makanan, tertaannya makanan dan saspirasi makanan ke dalam trakea.
6. Batuk kronis. Batuk merupakan gejala yang umum setelah operasi perbaikan atresia esophagus, hal ini disebabkan kelemahan dari trakea.
7. Meningkatnya infeksi saluran pernafasan. Pencegahan keadaan ini adalah dengan mencegah kontakk dengan orang yang menderita flu, dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi vitamin dan suplemen.
b. Keperawatan
Sebelum dilakukan operasi, bayi diletakkan setengah duduk untuk mencegah terjadinya regurgitasi cairan lambung ke dalam paru, cairan lambung harus sering diisap untuk mencvegah aspirasi.
ATRESIA REKTI DAN ANUS
1. Pengertian
Anus imperforate merupakan suatu kelainan malinformasi kongenital dimaan tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada bagian anus atau tertutupnya anus secara abnormal atau dengan kata lain tidak ada lobang secara tetap pada anus.
2. Patofisiologi
Terjadinya anus imperforata karena kelainan kongenital dimana saat proses perkembangan ambrionik tidak pada proses perkembangan anus dan rectum. Atresia anal terjadi karena tidak sempurnanya migrasi dan perkembangan struktur kolon antara 7-10 minggu selama perkembangan janin.

3. Tanda dan Gejala
Tanda dan Gejala atresia anus :
- Bayi muntah – muntah pada umur 24 – 48 jam.
- Sejak lahir tidak ada defekasi mekpnium
- Anus tampak merah, usus melebar, kadang-kadang ileus obstruksi.
- Termometer yang dimasukkan melalui anus tertahan oleh jaringan.
- Pada auskultasi terdengar hiperperistaltik.
- Pada fistula trakeoesofagus, cairan lambung juga dapat masuk ke dalam paru, oleh karena itu bayi sering sianosis.



4. Klasifikasi
Bayi muntah-muntah pada 24 – 28 jam setelah lahir dan tidak terdapat defekasi mekonium. Gejala ini terdapat pada penyumbatan yang lebih tinggi Ladd dan Bross (1996) membagi anus imperforate dalam 4 golongan, yaitu :
1. Stenosis rectum yang lebih rendah atau pada anus
2. Membran anus menetap
3. Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu tercetak pada bermacam-macam jarak dari peritoneum.
4. Lubang anus yang terpisah dengan ujung rektum yang buntu

Pada penderita atresia anus ini dapat diberikan pengobatan sebagai berikut :
- Eksisi membran anal.
- Fistula yaitu dengan melakukan kolostomia, sementara dan setelah 3 bulan dilakukan koreksi sekaligus

pengertian lain atresia esophagus

Clik Disisni

Pengertian andropause

Andropause adalah kondisi biologik dan biokhemis tertentu setelah usia setengah baya ang mendasari timbulnya perubahan fisik, psiologik, dan emosi. Kondisi ini secara alami pasti terjadi dan seringkali mengakibatkan perasaan tidak bahagia. Andropause umumnya dimulai umur 40 – 60 tahun ( BKKBN, 2003 )
Andropause adalah fenomena alami yang terjadi pada pria usia setengah baya (40 – 60 tahun) dengan gejala, tanda dan keluhan yang mirip dengan menopause pada wanita. Dimana terjadi penurunan produksi spermatozoa, hormon testosteron dan hormon-hormon lainnya secara perlahan.
Gb. Testoterone pada pria VS Usia
Andropause biasanya diikuti dengan perubahan sikap, dan mood, kelelahan, kehilangan tenaga, keinginan sex. Penelitian menunjukkan bahwa penurunan kadar testosterone dapat menimbulkan masalah kesehatan lainnya seperti sakit jantung dan kelemahan tulang (Osteoporosis). (
http://pikas.bkkbn.go.id/gemapria/article-detail.php?artid=60 )
Andropause adalah sindroma klinik yang ditandai dengan perubahan fisik dan emosional yang dihubungkan dengan menurunnya kadar hormon, seperti hormon pertumbuhan, dan khususnya hormon testosteron dalam konsentrasi yang bermakna. Dengan demikian, fungsi seksual maupun fertilitas (kesuburan) tidak berhenti sama sekali pada laki-laki yang mengalami gejala andropause, namun terjadi penurunan secara bertahap.
Sebenarnya andropause itu hanyalah istilah. Andro berarti laki-laki dan pause berarti berhenti. Apa yang terjadi sebenarnya tidak persis seperti menopause, penghentian fungsi gonad (ovarium/testis). Kalau pada perempuan tidak lagi menstruasi. Pada laki-laki tidak terjadi penghentian fungsi tersebut, hanya penurunan. Namun dampaknya tak hanya pada fisik dan psikis saja, namun juga pada fungsi seksual laki-laki. Meski demikian, andropause masih bisa diantisipasi untuk meminimalkan keluhannya, terutama sejak usia muda
Andropause adalah kondisi pria diatas usia tengah baya yang mempunyai kumpulan gejala, tanda dan keluhan yang mirip dengan menopause pada wanita. Istilah andropause berasal dari bahasa Yunani, Andro artinya pria sedangkan Pause artinya penghentian. Jadi secara harfiah andropause adalah berhentinya fungsi fisiologis pada pria.Berbeda dengan wanita yang mengalami menopause, dimana produksi ovum, produksi hormon estrogen dan siklus haid yang akan berhenti dengan cara yang relatif mendadak, pada pria penurunan produksi spermatozoa, hormon testosteron dan hormon – hormon lainnya sedemikian perlahan.

PENGERTIAN Myometritis

Pengertian
a) Myometritis adalah radang myometrium ( kamus Dorland ).
b) Miometrium adalah tunika muskularis uteri. ( kamus Dorland ).
c) Metritis atau miometritis adalah radang miometrium.

Gejala
· Demam
· Uterus nyeri tekan
· Perdarahan vaginal
· Nyeri perut bawah Lochia berbau, purulen

Metritis akuta
Metritis Akuta biasanya terdapat pada abortus septic atau infeksi postpartum. Penyakit ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi merupakan bagian dari infeksi yang lebih luas yaitu merupakan lanjutan dari endometritis. Kerokan pada wanita dengan endometrium yang meradang dapat menimbulkan metritis akut.
Pada penyakit ini miometrium menunjukkan reaksi radang berupa pembengkakan dan infiltrasi sel-sel radang. Perluasan dapat terjadi lewat jalan limfe atau lewat trombofeblitis dan kadang-kadang dapat terjadi abses.

Metritis kronika
Metritis Kronika adalah diagnosa yang dahulu banyak dibuat atas dasar menometroragia dengan uterus lebih besar dari biasa, sakit pinggang, dan leukore. Akan tetapi pembesaran uterus pada multipara umumnya disebabkan oleh penambahan jaringan ikat akibat kehamilan, sedang gejala-gejala yang lain mungkin mempunyai sebab lain.


Diagnosa dan Terapi
Diagnosa hanya dapat dibuat secara patolog anatomis.
Terapi miometritis :
a. Antibiotika spektrum luas
Ampisilin 2 g iv / 6 jam
Gentamisin 5 mg kgbb
Metronidasol 500 mg iv / 8 jam
b. Profilaksi antitetanus
c. Evakuasi sisa hasil konsepsi
d. Pus è drainase
Manajemen
§ Antibiotik kombinasi
§ Transfusi jika diperlukan

pengertian atresia esophagus

Pengertian :
Athresia Esophagus adalah perkembangan embrionik abnormal esophagus yang menghasilkan pembentukan suatu kantong (blind pouch), atau lumen berkurang tidak memadai yang mecegah perjalanan makanan / sekresi dari paring ke perut.


Klasifikasi :
Secara garis besar ada berbagai variasi cacat pada atresia esophagus :
1. Tipe A : Atresia esophagus tanpa fistula (7,7% dari kasus-kasus)
Atresia Esophagus adalah suatu kondisi di mana kedua segmen esophagus, atas dan bawah berakhir dengan kantong kosong dengan tanpa segmen yang berhubungan dengan trachea.
2. Tipe B : Atresia esophagus dengan fistula distal (86,5%)
Hal ini adalah jenis paling umum dari EA/TEF, di mana segmen bagian atas esophagus berakhir dengan kantong kosong dan segmen bagian bawah esophagus berhubungan terikat erat dengan trachea dengan adanya fistula.
3. Tipe C : Atresia esophagus dengan fistula proximal (0,8%)
Jenis ini jarang dari EA/TEF, di mana segmen bagian atas esophagus membentuk suatu saluran sampai trachea dan segmen yang lebih rendah dari esophagus berakhir dengan kantong kosong.
4. Tipe D : Atresia esophagus dengan fistula distal dan fistula proximal (0,7%)
Hal ini paling jarang dari EA/TEF, di mana kedua segmen kerongkongan terikat erat dengan trachea.
5. Tipe H : Fistula traheo esophagus tanpa atresia (4,2%).
Tracheo esophagus fistula adalah satu kondisi di mana fistula berada di antara esophagus dan trachea tapi esophagus itu normal ke perut.



Gejala dan Tanda :
· Dalam anamnesa : kehamilan ibu disertai hidramnion (± 60%)
Perlu dilakukan kateterisasi esophagus dengan kateter No.6-10 f
Bila kateter terhenti pada jarak 10 cm -> diduga atresia esophagus
· Bila pada bayi baru lahir timbul sesak napas disertai dengan air liur yang banyak meleleh ke luar dan pernafasan berbuih
· Segera setelah lahir bila diberi minum bayi akan batuk dan sianosis karena aspirasi cairan ke jalan napas
· Tindakan katersasi esophagus gagal; bila terhenti pada jarak <>


Penegakan Diagnosa :
Diagnosa harus ditegakkan secara dini, lebih baik lagi jika berhasil dibuat ketika berada di kamar bersalin, karena aspirasi paru merupakan penentu prognosis utama. Sekali diduga adanya atresia esophagus, maka kegagalan utnuk memasukkan suatu kateter ke dlaam lambung memastikan diagnosis. Biasanya kateter tersebut akan terhenti secara tiba-tiba pada jarak 10-11 cm dari garis batas atas gusi dan rontgenogram yang dilakukan, memperlihatkan kateter yang menggulung terletak did alam esophagus bagian atas.
Kadang kadang, rontgenogram yang dilakukan memperlihatkan gambaran khas suatu esophagus yang mengembang karena udara yang di dalamnya. Adanya udara di dalam abdomen menunjukan adanya suatu fistula di antara trakea dan esogfagus bagian distal. JIka dipergunakan bahan kontras, maka bahan kontras tersebut haruslah bahan yang dapat larut air; bila diberikan kurang dari 1 ml dengan pengawasan fluoroskopis maka sudah cukup untuk memperlihatkan gambaran dari kantung atas yang buntu. Kemudian bahan tersebut harus disingkirkan kembali untuk mencegahnya masuk ke dalam paru-paru dan mencegah pneumonia kimia.

Beberapa fistula tanpa atresia dinamakan tipe H.
· Diagnosa pasti dengan thorax foto : menunjukkan gambaran kateter terhenti pada tempat atresia.
· Fluoros copy dan Bronchos copy > Memberi gambaran yang lebih jelas
· Dalam foto abdomen perlu dibedakan apakah lambung terisi udara atau kosong > untuk menunjang diagnosa fistula tracheo esophagus


Komplikasi :
Lebih banyak pada TEF (Tracheal Esophagus Fistula)
1. Pneumoni
Aspirasi dari salisa, repluk dari gaster
2. Bersamaan dengan lesi terdapat :
· Congenital heart disease
· Gangguan intestinal anomalis
· Depormitas skeletasi dan muskler
3.
Prematuritas


Manifestasi-manifestasi Klinis :
Atresia esophagus harus dicurigai jika :
· Terdapat riwayat polihidramnion ibu
· Kateter yang dipergunakan pada saat kelahiran untuk resusitasi tidak dapat dimasukkan ke dalam lambung
· Bayi tersebut mempunyai sekresi oral dan faring yang berlebihan
· Terjadi aspirasi, sianosis atau batuk dalam pemberian makan bayi


Bayi dengan atresia tanpa fistula mempunyai abdomen skafoid serta tanpa gas. Pada fistula tanpa atresia yang jarang ditemukan, gejala-gejala yang serinng terjadi adalah aspirasi pneumonia berulang dan diagnosisnya dapat tertunda hingga beberapa hari atau bahkan berbulan-bulan. Walaupun aspirasi sekresi faring merupakan temuan yang hampir selalu didapatkan pada penderita-penderita atresia esophagus, namun aspirasi isi lambung melalui suatu fistula di bagian distal menyebabkan pneumonitis kimia yang jauh lebih hebat mengancam jiwa penderita tersebut.
Atresia esophagus terjadi pada 1 : 3000-4500 kelahiran hidup, kira-kira sepertiga dari bayi-bayi tersebut lahir secara premature. Pada lebih dari 75% kasus-kasus yang ditemukan, suatu fistula di antara trakea dan esophagus bagian distal menyertai atresia tersebut.
Anomali-anomali congenital tambahan diantaranya dapat mengencam jiwa pendererita dan terjadi pada minimal 30% bayi denga atresia esophagus. Yang paling sering adalah anomaly kardiovaskuler tetapi dapat pula dijumpai cacat lain pada saluran cerna, saluran kemih, vertebrata, dan system saraf pusat.


Pengobatan
Atresia esophagus merupakan keadaan darurat bedah. Sebelum pembedahan, penderita sebaiknya diletakkan dalam posisi tertelungkup untuk mengurangi isi lambung mencapai paru-paru serta isi dan kantung esophagus bagIan atas dikosongkan terus-menerus dengan penghisapan sebagai upaya untuk mempertahankan esophagus bagian atas tetap dalam keadaan kosong. Penting pula memberikan perhatian seksama terhadap pengendalian suhu dan fungsi pernafasan. Mungkin diperlukan aspirasi bronkoskopis baik pembedahan maupun pasca pembedahan terhadap kemungkinan atelektasis. Anomali-anomali congenital yang sering ditemukan dan berkaitan sering menjadi penyebab utama kematian.Kadang-kadang, keadaan penderita memerlukan pembedahan yang harus dilaksanakan secara bertahap; yang pertama biasanya deilakuka pengikatan fistula serta memasukkan sesuatu tuba gastrotomi untuk keperluan pemberian makanan dan yang kedua melakukan anastomosis kedua ujung esophagus. Delapan-10 hari setelah penyambungan primer, pemberian makanan melalui mulut biasanya dapat diterima penderita,Suatu esofagograf setiap 10 hari dapat membantu menentukan kemampuan anastomosis yang telah dilakukan. Stenosis pada tempat anastomosis merupakan kejadian yang sering dan mungkin memerlukan tindaka dilatasi. Pergerakan esophagus bagian distal selalu abnormal pada paska pembedahan sehingga memudahkan terjadinya refluks gastroesofagus, aspirasi, dan pembentukan striktura.

Nilai Akademik Universitas Kanjuruhan

Buat temen2 Lumajang!!! biar g" susah2 untuk lhat nilai akademik universitas kanjuruhan online
clik aja disini

Informasi Pendaftaran CPNS LUMAJANG

Click Disini

Semua info tentangpen daftaran cpns di lumajang!!!!!!!!

Back to Home Back to Top Ranuyoso 2009™. Theme ligneous by pure-essence.net. Bloggerized by Chica Blogger.